Sunday, June 27, 2010

stady tour in the jogja

“Kegiatan
Sosial Ekonomi Masyarakat di Lingkungan Obyek Wisata Borobudur”





Disusun untuk melengkapi laporan karya ilmiah
NAMA KELOMPOK 9 :
1. Saifudin zuhri (VIII A)
2. Syahrial Burhanudin R. ( VIII A )
3. Novan hadi kusuma W. (VIII D)
4. Moh. Ghufron Rosyadi( VIII B )
5. Ainul Izzi ( VIII F )

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI LAMONGAN
GLAGAH-LAMONGAN
TELP.(0322)3115
2009 / 2009



HALAMAN PENGESAHAN

Laporan study tour dengan tema“ Kegiatan Sosial Ekonomi Masyarakat di Lingkungan Obyek Wisata Borobudur”:

Hari : RABU
Tanggal : 05
Bulan : 08
Tahun : 2009





Mengetahui

Kepala MTs.Negeri Lamongan Guru Pembimbing



Drs.H.M.Syamsuri,M.Pd Drs.Masyhudi









HALAMAN PERSEMBAHAN

Dalam pembuatan laporan study tour ini penulis mengangkat judul “ Kegiatan Sosial Ekonomi Masyarakat di Lingkungan Obyek Wisata Borobudur”.Dan penulis mempersembahkan laporan ini kepada :
1. Kedua opang tua yang telah mendukung,mendidik serta memberi motivasi kepada penulis
2. Bapak kepala sekolah yang telah memberi arahan dan petunjuk kepada kami
3. Bapak dan Ibu guru pembimbing yang telah memberi pengarahan kepada kami
4. Teman-temanku yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan study tour ini.
















MOTTO


{PRESTASI PUNCAK ITU HANYA DAPAT DIRAIH JIKA ADA HASRAT YANG KUAT}
DAVID C. MCcLELLAND

{KITA ADALAH APA YANG KITA KERJAKAN BERULANG-ULANG , KARENA ITU , KEUNGGULAN BUKANLAH SUATU PERBUATAN MELAINKAN SEBUAH KEBIASAAN}
ARISTOTELES

{DARI PADA MENCEMASKAN TENTANG MASA DEPAN , LEBIH BAIK KITA BEKERJA KERAS UNTUK MEWUJUDKANYA}
HUBERT H. HUMPREY

{SEBUAH SUKSES LAHIR BUKAN KARENA KEBETULAN ATAU KENERUNTUNGAN SEMATA
SEBUAH SUKSES TERWUJUD KARENA DIIKHTIARKAN MELALUI PERENCANAAN YANG MATANG , KEYAKINAN , KERJA KERAS , KEULETAN DAN NIAT BAIK }
ANONIM







KATA PENGANTAR

Tiada kata yang dapat kami ucapkan selain puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT,karena hanya dengan limpahan rahmat,taufik serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan study tour dengan tema“ Kegiatan Sosial Ekonomi Masyarakat di Lingkungan Obyek Wisata Borobudur ” ini dapat diselesaikan.
Dalam menyusun laporan ini,penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak,oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada yang terhormat :
1. Orang tua yang telah mendukung , mendidik serta mengizinkan kami dalam mengikuti kegiatan study tour ini .
2. Bapak Drs.H.M.Syamsuri, M.Pd selaku kepala madrasah
3. Bapak dan ibu guru yang telah membimbing dan memberikan pengarahan kepada kami .
4. Teman – temanku yang telah membantu untuk menyelesaikan laporan study tour ini .
S emoga amal baik beliau diterima sebagai amal ibadah dan dicatat oleh Allah SWT.
Penulis juga menyadari bahwa laporan study tour ini masih terlalu jauh dari criteria sempurna,oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan karya ilmiah dikemudian hari.Semoga laporan ini dapat berguna khususnya bagi para penyusun dan semua pembaca pada umumnya , penulis mengucapkan terima kasih

Penyusun



Kelompok 9







BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Kegiatan Study Tour

Study tour adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan sekolah setiap akhir tahun pelajaran guna menambah wawasan dan pengalaman serta membiasakan siswa belajar secara langsung mengenal tempat-tempat bersejarah dengan cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Kegiatan study tour ini juga dapat meningkatkan keaktifan siswa dimana siswa dapat melakukan pengamatan secara langsung terhadap lingkungan sekitar,mengadakan tanya jawab dengan pihak pengelola obyek wisata serta melatih siswa belajar langsung dari sumbernya tidak bergantung dari buku ataupun keterangan guru.Selain itu study tour juga bisa melatih kemampuan bahasa siswa dengan melakukan berbagai wawancara dengan masyarakat sekitar obyek wisata maupun masyarakat mancanegara.











B.Tujuan dan Manfaat Kegiatan Study Tour

Berdasarkan rapat dewan guru yang telah disetujui dan disepakati bersama untuk melaksanakan kegiatan study tour yang kebetulan dilaksanakan pada tanggal 28-29 Juni 2009 dan sangat bermanfaat bagi siswa .
Diantara manfaat-manfaat yang diperoleh :
Dapat menambah wawasan siswa.Siswa dapat mengetahui secara langsung keanekaragaman wisata-wisata yang ada di Indonesia khususnya P.Jawa .
Melatih kekompakan dan kerjasama antara siswa yang satu dengan yang lain.
Mempererat persahabatan.Siswa dapat berbagi dengan siswa lain memberi bantuan serta masukan dan saling tolong– menolong.
Melatih siswa untuk membuat laporan
Memberi informasi kepada pembaca tentang masyarakat sekitar borobudur.

Tujuan diadakan study tour :
Membiasakan siswa untuk berinteraksi langsung dengan orang lain.
Melatih kemandirian siswa
Menambah keaktifan siswa,dengan melakukan berbagai wawancara dan belajar langsung dari sumbernya.
Menciptakan kekompakan antar anggota kelompok
Melatih kemampuan bahasa,dengan melakukan berbagai wawancara dengan masyarakat sekitar ataupun mancanegara
Membiasakan siswa belajar langsung di lokasi tidak berdasarkan buku atau pengarahan guru.
Mencintai Kebudayaan Negara






C.Permasalahan
Untuk laporan ini kami mengangkat tema “Kegiatan Sosial Ekonomi Masyarakat Dilingkungan Obyak wisata Borobudur.
Banyak warga sekitar komplek memanfaatkan benar-benar adanya candi borobudur tersebut sebagai ajang mencari nafkah terlihat dengan banyaknya para penjual yang berjualan seperti menjual berbagai macam souvenir.
Kegiatan ekonomi masyarakat sekitar komplek candi didorong dengan banyaknya wisatawan yang datang berkunjung ke candi baik wisatawan local maupun mancanegara.




















BAB II
PEMBAHASAN

A.Obyek Wisata Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi Budha, terletak di desa Borobudur kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Nama Borobudur merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta berarti kompleks candi atau biara. Sedangkan Budur berasal dari kata Beduhur yang berarti di atas, dengan demikian Borobudur berarti Biara di atas bukit. Sementara menurut sumber lain berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara sumber lainnya mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat, berukuran 123 x 123 meter. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat.Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
• Kamadhatu, bagian dasar Borobudur, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.
• Rupadhatu, empat tingkat di atasnya, melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka.

• Arupadhatu, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk.
• Arupa, bagian paling atas yang melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.
Setiap tingkatan memiliki relief-relief yang akan terbaca secara runtut berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana, ada pula relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang). Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Seorang budhis asal India bernama Atisha, pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini. Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut “The Lamp for the Path to Enlightenment” atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingii rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan.



















B.Sejarah dan Misteri Seputar Candi Borobudur
Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar

Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.
Nama Borobudur
Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit
Pembangunan Candi Borobudur
Candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.
Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, setelah itu periode selanjutnya dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana. Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalan







Misteri seputar Candi Borobudur
Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan?. Gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmiah, terutama tentang ruang yang ditemukan pada stupa induk candi dan patung Budha, di pusat atau zenith candi dalam stupa terbesar, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha yang tidak sempurna yang hingga kini masih menjadi misteri














Kronologis Penemuan dan pemugaran Borobudur
• 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
• 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan.
• 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
• 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
• 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
• 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
• 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
• 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
• 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
• 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
• 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
• 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.
• 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO





D.Faktor-faktor Yang Mendorong Kegiatan Ekonomi Di Lokasi Candi Borobudur
Banyaknya pengujung yang datang ke tempat lokasi
Banyaknya para pedagang yang menjual berbagaai macam souvenir
Borobudur sebagai tempat wisata yang sudah sangat terkenal
Keinginan masyarakat untuk tetap melestarikan budaya
Keadaan sosial masyarakat yang belum sepenuhya mencapai tingkat kemkmuran
E. Kegiatan Ekonomi Masyarakat dilingungan Lokasi Wisata Candi Borobudur
Dengan adanya candi Borobudur di lingkungan mereka maka masyarakat memanfaatkan hal itu untuk berbagai macam kegiatan ekonomi antara lain :
1. Menjual berbagai macam souvenir ( baju , sandal , buku , dll )
2. Menjual berbagai macam makanan
3. Menjajakan jasanya sebagai pemandu wisata
4. Bekerja dan merawat komplek candi









BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN
Kami dapat mengambil keputusan dari keterangan yang di peroleh baik dari keterangan langsung maupun informasi yang ada maka kami menyimpulkan bahwa :
Berdagang merupakan salah satu mata pencaharian penduuk
Pengunjung merupakan salah satu sumber penghasilan warga
Dari kegiatan study tour disamping sebagai sarana rekreasi menyegarkan pikiran siswa,juga menambah wawasan dan pengetahuan mengenai kebudayaan,tempat-tempat bersejarah,kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar








B.SARAN-SARAN
Bagi Masyarakat
Hendaknya masyarakat memberi sambutan dan pelayanan yang baik
Bagi Sekolah
Sarana transportasi dan konsumsi hendaknya lebih diperhatikan. Begitu pula dengan waktu yang diberikan hendaknya lebih diperhitungkan agar siswa lebih leluasa dalam menggali informasi.